Selasa, 16 Juli 2013

At-Taassi Bi Akhlaqir Rasul (2) Mengenal Bentuk Tubuh Rasulullah saw

02. Mengenal Bentuk Tubuh Rasulullah saw

Allah SWT berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam:4)

Allah SWT mengutus Rasulullah dengan dibekali berbagai kelebihan; wahyu Al-Qur’an, akhlak dan budi pekerti dan juga penampilan dan tubuh yang menawan dan sempurna. Sehingga dengan itu semua dapat menjadi daya tarik orang-orang yang bertemu dengannya.

Keindahan dan Keistimewaan Nabi Saw

Sudah cukup jelas bahwa Nabi kita Muhammad SAW dikaruniai Allah azza wajalla,seluruh sifat-sifat yang indah dan terpuji. Namun sifat-sifat yang indah itu sangat bertalian dengan dua hal besar. Pertama, keagungan dan sifat-sifat itu. Kedua, pancaran cahaya yang meliputinya. Karena itu keindahan paras muka beliau yang bersinar itu, tidak membawa akibat negatif bagi yang melihatnya, sebagaimana Nabi Yusuf dikaruniai Tuhan setengah dan kebagusan rupa. Rupa yang menyebabkan wanita yang melihatnya, mencencang tangan karena terpukau, sambil berkata:

“Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, ini tidak lain hanya malaikat yang mulia.”(QS Yusuf:21)

Keagungan inilah yang oleh Hindun binti Halah, dalam menggambarkan sifat-sifat Nabi, dikatakan sebagai agung dan penuh wibawa, seperti yang diriwayatkan oleh At;Turmidzi.

Pada kesempatan ini, marilah kita melihat beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Rasulullah saw dari penampilan dan tubuh beliau dan mengambil ibrah darinya.

قَالَ الْحَسَنُ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمَا: سَأَلْتُ خَالِي هِنْد بْنِ أَبِي هَالَة عَنْ حِلْيَةِ النَّبِي  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَشْتَهِي لِي مِنْهَا شَيْئًا أَتَعَلَّقُ بِهِ، فَقَالَ: "كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخْمًا مُفَخَّمًا، يَتَلَأْلَأُ وَجْهُهُ تَلأْلَأَ القَمَرِ لَيْلَةُ الْبَدْرِ..."

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. yang pernah hidup bersama Rasulullah SAW, berkata: "Saya bertanya kepada paman saya, Hind bin Abi Halah -yang selalu berbicara tentang Nabi yang mulia- untuk menceritakan kepada saya berkenaan dengan Nabi, agar kecintaan saya bertambah. Ia berkata, 'Nabi Allah sangat berwibawa dan sangat dihormati. Wajahnya bersinar seperti purnama.

قَالَ الْبَرَّاءُ بِنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : كَانَ النَّبِي  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنُهُمْ خُلُقًا لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيْر

Al-Barra bin Azib berkata: “Nabi saw adalah manusia terbaik ketampanannya, dan perangai yang indah, tidak tinggi sekali dan juga tidak pendek”.

Ia lebih tinggi dari orang-orang pendek dan lebih pendek dari orang-orang jangkung. Kepalanya agak besar dengan rambut yang ikal. Bila rambutnya itu bisa disisir, ia pasti menyisir rambutnya. Kalau rambutnya tumbuh panjang, ia tak akan membiarkannya melewati daun telinga. Kulit wajahnya putih dengan dahi yang lebar. Kedua alisnya panjang dan lebat, tapi tidak bertemu. Di antara kedua alisnya, ada pembuluh darah melintang yang tampak jelas ketika beliau marah. Ada seberkas cahaya yang menyapu tubuhnya dari bawah ke atas, seakan-akan mengangkat tubuhnya. Jika orang berjumpa dengannya dan tidak melihat cahaya itu, orang mungkin menduga ia mengangkat kepalanya karena sombong.

Janggutnya pendek dan tebal; pipinya halus dan lebar. Mulutnya lebar dengan gigi-gigi yang jarang dan bersih. Di atas dadanya ada bulu yang sangat halus; lehernya seperti batang perak murni yang indah. Tubuhnya serasi (semua anggota tubuhnya sangat serasi dengan ukuran anggota tubuh yang lain). Perut dan dadanya sejajar. Bahunya lebar, sendi-sendi anggota badannya gempal. Dadanya bidang. Bagian tubuhnya yang tidak tertutup pakaian bersinar terang. Segaris bulu yang tipis memanjang dari dada ke pusarnya. Di luar itu, dada dan perutnya tidak berbulu sama sekali. Lengan, bahu dan pundaknya berbulu. Lengannya panjang dan telapak tangannya lebar. Tangan dan kakinya tebal dan kekar. Jari-jemarinya panjang. Pertengahan telapak kakinya melengkung, tidak menyentuh tanah, air tidak membasahinya. Ketika berjalan ia mengangkat kakinya dari tanah dengan dada yang dibusungkan. Langkah-langkahnya lembut. Ia berjalan cepat seakan-akan menuruni bukit. Bila berhadapan dengan seseorang, Ia hadapkan seluruh tubuhnya, bukan hanya kepalanya. Matanya selalu merunduk. Pandangannya ke arah bumi lebih lama daripada pandangannya ke langit. Sesekali ia memandang dengan pandangan sekilas. Ia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan salam kepada orang yang ditemuinya di jalan.'"

 “Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih.” (diriwayatkan oleh Abu Raja’ Qutaibah bin Sa’id, dari Malik bin Anas, dari Rabi’ah bin Abi `Abdurrahman yang bersumber dari Anas bin Malik r.a)

Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.

Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku tak pernah melihat orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi.” (diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’,dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)

Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian.

Nabi saw bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu’ah. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s.ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas’ud,Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*.” (Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’ad dari Laits bin Sa’id, dari Abi Zubair yang bersumber dari Jabir bin `Abdullah r.a.)

• Suku Syanu’ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.

• Urwah bin Mas’ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.

• Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai’atur Ridlwan yang bersejarah.

“Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu.” (Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari `Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

Hikmah membahas tubuh Rasulullah saw

1.  Menyadari bahwa Rasulullah adalah manusia biasa yang memiliki anggota tubuh seperti yang lainnya, dan Allah memberikan kelebihan kepadanya berupa paras atau wajah dan tubuh yang baik. (lihat surat Al-Isra:70)
2.   Bahwa paras dan tubuh yang baik bukan digunakan untuk saling berbangga apalagi menyombongkan diri namun untuk disyukuri dan dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah. (lihat surat Al-Hadid:23)
3.  Bagi siapa yang diciptakan Allah tidak seperti yang diinginkan maka jangan bersuudzan kepada Allah, namun tetaplah berbaik sangka, karena boleh jadi itulah yang terbaik menurut Allah. Dan juga jangan iri kepada orang lain karena diberikan nikmat berupa tubuh yang sempurna. (lihat surat An-Nisa:32)
4.  Menyadari bahwa Rasulullah saw adalah manusia biasa namun diberikan wahyu kepadanya untuk disampaikan kepada umatnya. (lihat surat Al-Kahfi:110)


Senin, 15 Juli 2013

Manusia butuh ibadah bukan (sekedar) kewajiban



Dalam hadits qudsi  nabi saw bersabda; Allah SWT berfirman:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا 
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ 
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ 
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ 
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ 
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي 
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا 
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا 
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ 
يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

Wahai hambaKu sesungguhnya Aku haramkan kezaliman atas diriKu, dan kujadikan diantara kalian sebagai tindakan haram, karena itu janganlah kalian saling menzalimi.
Wahai hambaKu, kalian semua tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepadaKu, Aku akan memberi hidayah kepadamu.
Wahai hambaKu… Kalian semua lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, karena itu mintalah makan kepadaKu, Aku akan memberimu makanan.
Wahai hambaKu …Kalian semua telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian dariKu, Aku akan memberikan pakaianmu.
Wahai HambaKu.. Sesunggunhya kalian berbuat salah di malam hari dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni semua dosamu, maka mohonlah ampunan kepadaKu, niscaya aku mengampunimu.
Wahai hambaKu, sesungguhnya kalian belum sampai pada penderitaan dariKu, maka mohonlah agar dijauhkan dari penderitaan dariKu…Dan kalian belum sampai meraih manfaatKu, maka mintalah manfaat dariKu.
Wahai hambaKu, jika saja dari generasi awal dan akhirmu, manusia dan jin diantaramu, dikumpulkan dalam ketaqwaan seseorang (lalu semuanya sangat bertaqwa kepadaKu) maka semua itu tidak akan menambah sedikitpun KerajaanKu.
Wahai hambaKu…Jika saja generasi awal dan akhir baik dari manusia dan Jin berada dalam satu hati seorang yang serong (lalu semuanya jadi serong kepadaKu) maka sama sekali tidak akan mengurangi sedikit pun KerajaanKu.
Wahai hambaKu..Jika generasi awal hingga akhirmu, manusia maupun Jin berkumpul dalam satu puncak tinggi, lalu mereka semua meminta kepadaKu, lalu Aku memberikan apa yang mereka pinta, sama sekali tidak mengurangi apa yang ada padaKu, kecuali seperti benang yang dicelup di lautan.
Wahai hambaKu… Sesungguhnya adalah amal-amalmu yang aku hitung bagimu, lalu Aku selaraskan kepadamu sesuai dengan hitungan, maka siapa yang mendapatkan kebajikan, hendaknya memuji Allah, dan siapa yang mendapatkan selain itu jangan memaki kecuali memaki dirinya sendiri." (HR. Muslim dan lainnya)

   Allah menciptkan seluruh makhluk untuk beribadah

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (Al-Isra:44)

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”. (Ar-Ra’ad:15)

 Allah menciptakan manusia (secara khusus) untuk beribadah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (Adz-Dzariyat:56)

Makna ibadah:

Setiap amalan atau pekerjaan yang bermanfaat pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat, memenuhi aturan dan syarat-syaratnya dari alqur’an dan hadist, maka akan menjadi ibadah yang diberi pahala oleh Allah SWT. Ibadah itu pada hakikatnya meliputi seluruh kehidupan manusia. (QS 51: 56; QS 6:162-163; QS 98:5).

Pengertian ibadah

Ibadah berasal dari bahasa arab yang berarti ketaatan, penghambaan, dan penyembahan/ pengagungan. Dalam Al Quran Penggunaan kata Ibadah seperti: Ibadah yang bermakna ketaatan. (QS 36:60; QS 9:31), Ibadah yang bermakna penghambaan dan ketaatan. (QS 2:172; QS 26:22; QS 23:45-47), Ibadah yang bermakna pemujaan/ penyembahan. (QS 40:66; QS 46:5-6), Ibadah yang bermakna penghambaan, kekuatan dan penyembahan. (QS 20:14; QS 6:102; QS 12:40; QS 18:110).

Menurut Ibnu Taimiyyah: Ibadah adalah nama yang menggabungkan setiap perkara yang di sukai dan diridhoi Allah dari jenis perkataan atau perbuatan lahir batin. Selanjutnya beliau menyatakan: Maka sholat, zakat, puasa, haji, berkata benar, menunaikan amanah, berbakti kepada ibu-bapak, menghubungkan sillaturrahim, menepati janji, menyuruh kepada kebaikan, mencegah pada kejahatan, berperang menentang orang kafir dan munafik, anak yatim, orang miskin, musafir, hamba sahaya dan ihsan kepada binatang peliharaan, berdoa, berzikir, membaca Al Quran, semuanya itu termasuk sebahagian dari ibadat. Demikian pula cinta pada Allah dan cinta pada Rasul Nya, takut kepada Allah, merujukkan sesuatu kepada-Nya, memurnikan ketaatan kepada-Nya, bersabar menerima hukum-Nya, bersyukur atas segala karunia-Nya, ridha dengan qada’ dan qadar-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya dan takut pada azab siksa-Nya dan amalan-amalan lainnya semuanya itu termasuk 'Al Ibadah'.
    
Syarat pengamalan ibadah

Ibadah hanya diamalkan dengan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Diamalkan dengan ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah ( QS 98:5)

2. Diamalkan dengan benar mengikut sunnah Nabi saw. Apabila ibadah diamalkan tidak mengikut sunnah    Nabi saw, maka ibadah itu tertolak 

Lingkup Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan 

Setiap perbuatan, perkataan manusia lahir dan batin yang disukai dan diridhoi oleh Allah swt. seperti membantu orang sakit, meringankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya, menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang lain adalah ibadah. Berkata benar, taat kepada ibu bapak, amanah, menepati janji, memenuhi hajat keperluan orang lain adalah ibadah.

Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala kejahatan, berjihad, tolong menolong kepada sesama manusia, dan kepada binatang, berdoa, puasa, shalat, membaca al-Quran, itu pun adalah sebagian dari ibadah. Begitu juga cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima nikmat, ridha terhadap qadha’ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan manusia yang termasuk dalam bidang ibadah.

Ibadah dapat dibagi menjadi: 

1. Ibadah I'tiqodiyah (keyakinan/ kepercayaan)

Ibadah I'tiqodiyah seperti Berkeyakinan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. (QS 47:19), Cinta kepada Allah (QS 2:165), Takut kepada Allah serta mengaharapkan rahmatnya. (QS 70:27-28), Inabah (kembali) kepada Allah (QS 39:54 ), Tawakal dan meminta pertolongan kepada Allah (QS 1:5; QS 64:13 )

2. Ibadah Qouliyah (lisan)

Ibadah Qouliyah seperti Mengucapkan dua kalimah Syahadat, Zikir kepada Allah tasbih dan istighfar. (QS 33:41-42), Bersumpah dengan nama Allah, Berdoa dan minta pertolongan kepada Allah. (QS 40:60), Dakwah kepada Allah dan Amar makruf Nahi Mungkar (QS 41:33; QS 3:104)

3. Ibadah Amaliyah
Ibadah Amaliyah seperti Mendirikan Solat (QS 98:5), Menunaikan Zakat (QS 2:110), Puasa Ramadhan (QS 2:183), Haji ke Baitullah bagi yang mampu (QS 3:97), Berhukum dengan hukum Allah (QS 12:40), Berjihad di jalan Allah (QS 2:216; QS 13:142), Bernazar untuk Allah (QS 76:7), Tawaf di Baitullah (QS 22:29).

Selain itu Ibadah juga terbagi kepada Ibadah Mahdah (khusus) dan Ibadah Ghoir Mahdah:

a. Ibadah Mahdah 

Yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah yang keseluruhan tatacaranya telah ditetapkan oleh Allah, Manusia tidak berhak mencipta/merekayasa bentuk ibadah jenis ini. para ulama menetapkan qaidah iaitu ‘Asalnya ibadah itu haram, terlarang’ (kecuali dengan perintah Allah dan petunjuk Muhammad saw). Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan Al Ibadah atau Al Ubudiyyah. Ibadah jenis ini seperti shalat, puasa, zakat, aqiqah dan qurban.

b. Ibadah Ghoir Mahdah 

Yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah dalam pengertian yang luas seperti  kenegaraan, ekonomi, pendidikan, sosial, hubungan luar negeri, kebudayaan, undang-undang kemasyarakatan, dan teknologi dan sebagainya. Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan 'Al-Muamalah' (iaitu hubungan antara manusia dengan manusia). Peranan syara' dalam hal ini adalah memperbaiki sesuatu yang telah diadakan oleh manusia dan manusia dibenarkan mengada-adakan sesuatu yang selaras dengan hukum-hukum/ peraturan Allah (di dalam Al Quran dan As Sunnah) 

Selain itu Ibadah juga terbagi pada Ibadah Fardiyah (perseorangan) dan Ibadah Jamaiyah (kewajiban secara bersama atau berjamaah).

a. Ibadah Fardiyah yaitu amalan ibadah yang menjadi kewajiban setiap orang, seperti sholat, zakat, haji dan sebagainya. Ibadah seperti ini dapat dilakukan di mana saja baik di dalam negara Islam atau di negara kafir.

b. Ibadah jamaiyah yaitu ibadah yang diwajibkan ke atas seluruh umat (sebagai kewajiban bersama). Sebagai contoh perlaksanaaan hukum hudud, hukum qishas dan sebagainya. 

Para nabi dan rasul-Nya menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan, dijelaskan dalam al-Quran: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33: 21).

Sebaiknya kita berpikir sejenak setiap apa yang akan dilakukan oleh lisan, hati dan anggota tubuh kita, apakah yang dilakukan tersebut termasuk ibadah atau bukan, jika bukan ibadah maka tidak boleh dilakukan seperti menggunjing, mengumpat, sombong, riak ,angkuh, tidak ikhlas dll. Selain itu apakah cara melakukan amalan kebajikan itu telah sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat ibadah dan amal sholeh yang sah. supaya kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri, dengan menyangka bahwa kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi dihadapan allah tidak demikian, maka kita akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia amalan kita.

Manusia butuh ibadah:
1.    Karena ibadah berpeluang meraih derajat paling mulia yaitu ketakwaan

ياَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِىْ خَلَقَكُمْ وَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْن 

"Hai manusia, sembahlah Tuhan mu yang telah menjadikan kamu dan juga orang-orang sebelummu supaya kamu bertakwa” [Al Baqarah 2:22].

2.    Karena ibadah berpeluang mensucikan jiwa dan terhindar dari kemaksiatan

ان الصلوة تنهى عن الفحشاء والمنكر

“Sesungguhnya shalat mencegah orang dari kekejian dan kejahatan yang nyata” [Al Ankabut 29:46].

3.    Karena ibadah berpeluang memiliki perasaan akan keberadaan Allah SWT,

 اَلَّذِى يَرَاكَ حِيْنَ تَقُوْمُ وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

“Yang Dia melihatmu sewaktu kamu berdiri (shalat) dan bolak balik dalam sujud”

4.    Terkabul Do’a-do’anya,

 اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِلا فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِى وَالْيُؤْمِنُوْا بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Aku mengabulkan do’a orang yang memohon apabila ia mendo’a kepada Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan Ku dan beriman kepada Ku supaya mereka mengikuti jalan yang benar” [Al Baqarah 2:187].

5.    Berhati ikhlas,

 وَمَا اُمِرُوْا اِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الِدّيْنَلا حُنَفَاءَ....

“Dan mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada Nya dengan lurus”. [Al Bayyinah 98:6].

6.    Memiliki kedisiplinan, Ibadah harus dilakukan dengan دائمون “dawam” (rutin dan teratur), خاشعون “khusyu’” (sempurna), يحافظون terjaga dan semangat.

7.    Sehat jasmani dan rohani, hamba yang beribadah menjadikan gerakan shalat sebagai senamnya, puasa menjadi sarana diet yang sehat, membaca Al Qur an sebagai sarana terapi kesehatan mata dan jiwa. Insya Allah hamba yang tekun dalam ibadah dikaruniakan kesehatan.

At-Taassi Bi Akhlaqir Rasul (Meneladani Akhlak Rasulullah saw)

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab:21)

Ber-uswah kepada Rasulullah saw ialah mengerjakan sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh beliau, baik berupa amalan sunnah atau pun wajib dan meninggalkan semua yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw baik perkara itu makruh, apalagi yang haram. Jika beliau SAW mengucapkan suatu ucapan, kita juga berucap seperti ucapan beliau, jika beliau mengerjakan ibadah, maka kita mengikuti ibadah itu dengan tidak ditambah atau dikurangi. Jika beliau menganggungkan sesuatu, maka kita juga mengagungkannya.

Namun perlu diperhatikan bahwa mustahil seseorang itu ber-uswah kepada Rasulullah saw jika dia jahil (bodoh) terhadap sunnah-sunnah dan petunjuk-petunjuk Rasulullah saw. Oleh sebab itu jalan satu-satunya untuk ber-uswah kepada Rasulullah.saw adalah dengan mempelajari sunnah-sunnah beliau – ini menunjukkan bahwa atba’ (pengikut Rasul) adalah ahlul bashirah (orang yang berilmu).

Cukup banyak ayat-ayat Al-Qur’an agar kita senantiasa mengikuti sunnah seperti: "Barangsiapa yang menta’ati Rasul berarti dia menta’ati Allah.. " (An-Nisa’:80) "Barangsiapa yang ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya Allah akan memasukkannya ke dalam Syurga…" (An-Nisa’:13) … dan ayat-ayat yang lainnya. Dan perkataan Rasulullah merupakan perkataan yang harus dipercaya, sebab "idaklah ia berkata-kata dari hawa nafsunya melainkan wahyu yang disampaikan Allah kepadanya." (An-Najm:4)

Bahkan Rasulullah mengingkari orang-orang yang beramal tetapi mereka tidak mau mencontoh seperti apa yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah : "Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak." (Muslim, 1718).
Dalam hadits ini ada faedah penting, yaitu : Niat yang baik semata tidak dapat menjadikan suatu amalan menjadi lebih baik dan akan diterima di sisi Allah, akan tetapi harus sesuai dengan cara yang pernah diajarkan oleh Rasulullah saw. Oleh sebab itu Nabi menutup jalan bagi orang yang suka mengada-ngada dalam ibadah dengan ucapan : "Siapa yang benci (meninggalkan) sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku".(Bukhari). Dan ini berlaku bagi seluruh sunnah yang telah ditetapkan beliau.

Kenapa kita harus berta’assi kepada Rasulullah saw?

Dalam buku sayyiduna Muhammad Rasulullah saw, syamailuhu al-hamidah khisholuhu al-majidah, karangan Abdullah Sirajuddin, menjelaskan bahwa kita memiliki kewajiban untuk mengenal lebih dekat tentang kehidupan Rasulullah saw dan berkewajiban pula menelaah dan mengamalkan keperibadian beliau yang mulia dan perilaku beliau yang lembut dan indah.
Allah SWT berfirman: “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah”. (Al-Hujurat:7)
Dan Allah berfirman: “Ataukah mereka tidak Mengenal Rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?”. (Al-Mu’minun:69)
Ada lima alasan kenapa kita harus mengenal Rasulullah saw:
1. Bahwa Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada Rasulullah saw 

Sebagaimana firman Allah SWT: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (At-Taghabun:8)

Dan beriman kepada nabi saw menuntut setiap hamba untuk mengenal keutamaannya, ketinggian kedudukannya, dan kesempurnaan yang telah Allah anugerahkan kepadanya, akhlak yang telah dibina-Nya, dan berbagai tindakan dan perilaku yang mulia dan postur tubuh yang sempurna, serta berbagai kesempurnaan lainnya yang tidak bisa disamakan dengan seluruh makhluk lainnya.

Bagaimana bisa nabi saw dibandingkan dengan lainnya? Padahal Allah telah memberikan kepadanya begitu banyak keistimewaan, mengkhususkannya dengan akhlak paling mulia, dan mengangkatnya dengan perilaku yang sangat agung, menciptakannya dengan postur tubuh yang baik dan sempurna, dan Allah juga telah mengkhususkan dengan berbagai keunggulan: “pembinaan dan pemeliharaan langsung dari Allah SWT” sebagaiamana yang disebutkan dalam firman Allah: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan”. (Ad-Dhuha:6-8)

Allah juga telah mengajarinya langsung ilmu dan pengajaran, padahal beliau tumbuh dalam kondisi ummi (buta huruf), Allah SWT berfirman: “Bacalah dengan nama Tuhanmu” (Al-Alaq:1) bukan melalui pendidikan dan ilmu pengetahuanmu. Allah berfirman: “Kami akan bacakan (ajarkan) kepadamu sehingga kelak kamu tidak akan lupa”. (Al-A’la:6) Allah berfirman: “Dan Allah yang telah mengajarkan kepadamu sesuatu yang tidak kamu ketahui, dan sungguh anugerah Allah sangatlah besar untukmu”. (An-Nisa:113)
Beliau juga memiliki kedudukan mendapatkan wahyu dari Allah seperti firman Allah: “Katakanlah sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian yang telah diberikan wahyu kepadaku”. (Al-Kahfi:110)
Intinya adalah bahwa “Nabi saw adalah manusia namun tidak seperti manusia biasa, sebagaimana mutiara adalah batu tidak seperti batu biasa”.

2. Bahwa Allah telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya utnuk ittiba’ (mengikuti) nabi saw, 

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Ali Imran:31) disini Allah menjadikan dalil tentang cinta kepada nabi saw adalah dengan mengikuti kehidupan nabi saw. Dan firman Allah: “Dan ikutilah dia (Nabi saw) agar kalian mendapat petunjuk”. (Al-A’raf:158) yaitu memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Dan mengikuti jejak langkah hidup nabi tentunya menuntut setiap hamba mengamalkan berbagai perilaku, akhlak , menuntut juga untuk mengetahui sifat, karakter dan akhlaknya yang mulia, agar dapat ditiru dan diikuti secara sempurna kecuali hal-hal yang menjadi kekhususan tersendiri dari berbagai hokum dan perilaku hidupnya.

Oleh karena itulah para sahabat sangat bermabisi mengikuti berbagai perilaku dan ucapan Nabi saw, tindakan, etika dan akhlak beliau, bahkan mereka juga berambisi mengikuti berbagai kebiasaan beliau, karena kebiasaan pemimpin tentunya adalah pemimpin kebiasaan.

Al-allamah As-sanusi berkata: “Dapat difahami dari agama para sahabat akan kewajiban dan urgensi mengikuti nabi saw tanpa ragu dan bimbang dalam berbagai perbuatan dan ucapannya. Sungguh para sahabat melepas terompah mereka ketika melihat Nabi saw terlihata melepas terompahnya, mereka mencopot cincin yang melekat di tangan mereka ketika melihat nabi mencopot cincin yang ada ditangannya.. dan lain sebagainya.

3. Bahwa Allah SWT telah mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk mencintai Nabi saw melebihi cinta mereka kepada keluarga; orang tua, anak-anak, istri dan kerabat lainnya, perniagaan dan harta mereka, dan bahkan mengancam mereka dengan dengan azab yang pedih. 

Allah berfirman: “Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. (At-Taubah:24)

4. Bahwa telaah manusia tentang sifat-sifat nabi yang mulia, akhlaknya yang agung akan memberikan gambaran ilmiah yang mampu membentuk hati menjadi baik, perilaku menjadi lurus, dan tutur kata yang lembut.

5. Bahwa dengan mengingat akhlak dan perilaku nabi saw serta mendengar sifat dan karakteristiknya, maka akan menghidupkan hati yang mencintainya, membuka cakrawala akal mereka dan menaikkan spiritualismenya, bahkan akan mampu menambah kecintaan dan menggerakkan rasa rindu kepadanya.

Kesimpulan

Jika seseorang dicintai karena kharismanya, atau karena keberaniannya, atau karena kelembutannya, atau karena ilmunya, atau karena ketawadhuannya, atau karena ibadah dan ketaqwaannya, atau karena zuhud dan wara’nya, atau karena kesempurnaan akalnya, atau karena kecepatan daya tangkapnya (kecerdasannya), atau karena keindahan adabnya, atau karena bagus akhlaknya, atau karena kefasihan lisannya, atau karena pergaulannya yang menarik, atau banyak kebaikan dan jiwa sosialnya, atau karena kasih sayangnya, atau lain sebagainya dari berbagai sifat yang sempurna lainnya… bagaimana jika itu semua tergabung dalam satu sosok, bersatu sifat, akhlak, karakter yang sempurna pada satu orang; itulah yang terdapat dalam diri dan sosok agung dan mulia Muhammad saw. Allah telah memberikan kepadanya kesempurnaan postur tubuh, wajah, akhlak, sifat, karakter dan berbagai cirri kebaikan dan kesempurnaan lainnya. Seperti ada ungkapan: “Tidak pernah ada sebelum dan sesudahnya seperti beliau”.

Karena itu, wajib atas kita mengenal akan kesempurnaan dan keindahan akhlak dan karakter nabi saw, kesempurnaan jiwa dan ruhnya, kebersihan hati dan akal dan keluasan ilmu dan pengetahuannya, dan itu semua untuk meraih posisi cinta yang sesungguhnya dan itu juga yang akan kembali kepada kita meraih cinta. Karena setiap kali bertambah pengenalan kita maka akan bertambah kecintaan dan bertambah pula yang dicintai.

Hasan bin Ali pernah bertanya kepada pamannya Hindun bin Abi Halah –beliau adalah seorang pemerhati akhlak dan sifat- tentang sosok keperibadian Nabi saw, dan aku sangat suka sekali mendengar kisah kesempurnaan yang berhubungan dengannya. Maka diapun berkata: “… nabi saw adalah sosok , wajahnya bercahaya bak rembulan di malam bulan purnama…”